Pertama Resmi Siaran Pers!

February 21, 2014

Habitat Kingfisher Jawa berada di sawah tersebut.

 

 

Yayasan Konservasi Sawah Bali , sebuah organisasi non-profit Indonesia, dibentuk pada tahun 2013. Yayasan Konservasi Sawah Bali dibentuk untuk melestarikan sawah di Bali, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani , dan mempertahankan budaya penanaman padi di Bali di tengah pembangunan rumah, hotel, dan villa yang berlebihan dan masalah kelangkaan air yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Sawah Bali kemudian meluncurkan 'pilot project' nya di Bali.

Manajemen pengelolaan lahan sawah yang akan diperkenalkan Sawah Bali mirip dengan konsep 'Land Trust' di Amerika Serikat yang telah berhasil diterapkan selama 40 tahun untuk melestarikan lahan pertanian. Sawah Bali akan meniru konsep 'Land Trust' di AS untuk menjaga agar penduduk sekitar wilayah 'pilot project' mampu bekerja sama secara produktif dengan menerapkan praktek pengelolaan lahan dan sumber daya alam yang baik guna meningkatkan daya saing produk pertanian lokal. Dengan melestarikan lahan pertanian dan subak, penggunaan sumber daya air akan diprioritaskan untuk subak, sawah, produksi pangan, ketahanan cadangan sumber air bersih dan ritual keagamaan.


 

Dewi Sri

 

Konsep pertama dan yang paling sentral dalam usaha konservasi lahan adalah dengan menawarkan kompensasi finansial untuk lahan sawah petani lokal setiap tahun agar tetap melanjutkan pengelolaan pertanian. Sebagai gantinya, pemilik lahan sawah akan kehilangan hak mereka untuk menjual sawah mereka untuk tujuan pembangunan rumah, gedung, villa, dan bangunan lainnya. Pemilik sawah tetap mendapatkan hak milik sepenuhnya terhadap lahan sawah mereka dan dapat diperjualbelikan kepada petani lain untuk pengelolaan pertanian atau diwariskan kepada ahli warisnya.

Konsep kedua yang akan diterapkan Sawah Bali ialah peningkatan kesejahteraan petani. Konsep ini berkembang karena berbagai usaha perlindungan lahan sawah tidak akan cukup untuk meningkatkan standar kehidupan para petani lokal. Peningkatan ekonomi petani lokal sama pentingnya dengan usaha perlindungan lahan sawah. Peningkatan kesejahteraan petani diharapkan mampu menjamin keberlangsungan usaha perlindungan lahan sawah dengan melibatkan generasi mendatang dalam pengelolaan pertanian . Transisi ke metode organik melalui teknologi 'permaculture' dan manajemen pemberantasan hama yang terpadu merupakan bagian dari proyek ini. Varietas padi Heritage akan menggantikan padi hibrida modern yang memiliki kandungan nutrisi yang lebih besar sehingga akan meningkatkan harga jual padi di pasaran. Jenis tanaman lain yang cocok dengan keadaan tanah dan iklim di wilayah 'pilot project' Sawah Bali juga akan dikembangkan sebagai alternatif pola tanam petani yang sangat penting dalam era perubahan iklim dan perubahan permintaan pasar. Selain itu, komoditas tanaman yang beragam juga akan meningkatkan gizi keluarga petani. Sawah Bali akan menyediakan rantai pasokan (supply chain) produk pertanian lokal, sehingga kelebihan produk organik lokal akan dijual dengan harga premium guna meningkatkan pendapatan keluarga petani lokal. Berbagai usaha lainnya untuk meningkatkan nilai jual produk juga dapat dikembangkan. Yayasan IDEP, bekerja sama dengan Sawah Bali, akan memberikan bantuan dalam pengawasan yang dilakukan dengan penilaian (assessment) aspek sosial dan keadaan tanah dan bantuan teknis berkelanjutan bagi semua petani yang berpartisipasi untuk menerapkan transisi komoditas pangan mereka menuju produk organik. Bantuan teknis ini akan tetap diberikan hingga keberhasilan individu dan kolektif dalam transisi tersebut telah tercapai.

Proyek pertama di Sawah Bali ini diterapkan di wilayah Subak Malung Bulu Jauk yang terdiri dari Desa Bunutan dan Desa Tanggayuda (10 km dari Ubud - Gianyar, Bali). 135 anggota Subak Malung Bulu Jauk telah bersedia dan bertekad untuk menjadi subak pertama di Bali yang berpartisipasi dalam 'pilot project' ini.

 

ByuKukung di Bunutan

 

Sehubungan dengan budaya, norma agama, dan hukum di Bali, Sawah Bali bekerja sama dengan Pekaseh (pemimpin) Subak Malung serta ketua adat dan ketua dinas dari kedua desa. Tim dari Sawah Bali kemudian mengunjungi Pura Ulan Danu Batur, Candi Agung Air di Kintamani yang baru ditunjuk Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, dan bertemu dengan tokoh masyarakat, Jero Gede, untuk membahas misi Sawah Bali serta etika dan filosofi Tri Hita Karana - hubungan suci terhadap Tuhan, sesama masyarakat, dan lingkungan. Sawah Bali mendapat kehormatan untuk menerima dukungan dari Jero Gede untuk melaksanakan misinya.

Sawah Bali berkomitmen dalam menanggapi isu-isu mengenai kelangkaan air yang sangat mengkhawatirkan di Bali serta perlindungan dan pelestarian subak dalam Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO di Bali.  Sawah Bali bekerja sama dengan Forum Koordinasi (sebelumnya dikenal sebagai Majelis Pemerintahan), sebuah badan yang dibentuk untuk mengembangkan dan menerapkan rencana strategis perlindungan bagi Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO (WBD) di Bali, untuk menjaga kelestarian WBD.

'Pilot Project' Sawah Bali ini akan menjadi contoh sukses bagi Pemerintah Provinsi Bali yang nantinya diharapkan mampu mengembangkan model konservasi lahan sawah serupa untuk seluruh 1.500 subak yang ada di Bali. Kemitraan Indonesia meliputi Yayasan Bhumi Banten, Yayasan IDEP, musisi / aktivis Robi Navicula, staf pengajar Universitas Udayana Wiwik Dharmiasih , Dr Wayan Windia , Dr Luh Kartini ( BOA ) , konsultan Starling Resources dan Rita Dewi Red Lotus Properties.Kemitraan Amerika Serikat meliputi Vermont Land Trust , Vermont Perumahan dan Dewan Konservasi dan The Farm Program Viabilitas

 

                           

Petani dan pemimpin dari Bunutan, Tanggayuda, Pekaseh Subak Malung dan Tim Sawah Bali!

 

Please reload

Recent Posts

March 13, 2014

February 23, 2014

February 22, 2014

Please reload